Indonesian Folktales

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, March 7, 2017

Ikuti Nurani







Aku berjalan semakin jauh
semakin dalam menerobos pekatnya belantara
Dan aku tak sendiri
Ada kau yang mendampingi

Kadang kau di sisiku
Kadang di belakangku
Namun jarakmu tak pernah jauh
Meski gapaiku tak selalu tersambut
Dan tatapku tak selalu bertemu
Hadirmu tak tergeser ruang dan waktu

Saat langkahku terhenti 
Kadang kaurengkukah peluk di sekelilingku
Tanpa kata
Segalanya terucap
"Aku ada untukmu"

Dalam hening
Keberadaan begitu nyata
Bisikmu lembut namun hidup
"Berjalanlah, aku mengikutimu"

Kulanjutkan langkahku
perlahan dan hati-hati
Kuberanikan diri
ikuti nurani

Berbekal nafas dan secuil asa
Semoga suatu saat
Langkahku terhenti
Dan istirahatku menjadi pasti

Jakarta, 7 mar 2017



Tuesday, August 23, 2016

Gerimis Mengiris






Mencari sosokmu
Yang tak lagi bisa kurasa
Seperti hilang tersapu gerimis
Yang meski kecil namun mengiris

Melerai satu persatu
Kenangan yang keras kepala
Yang hidupnya minta diperhatikan
Atau hidup dari sebuah perhatian

Entahlah, sayang
Aku tak mau lagi mereka-reka
Merasa-rasa
Sedang apa seorang yang kucinta
Di malam gerimis yang mengiris ini

Dan bukannya aku tak lagi sayang
Namun ada banyak yang kusayang
Para kesayangan yang senantiasa dihadirkan
Konon lebih “layak” disayang
Daripada sosokmu yang tak kunjung datang

Dan kini gerimis mereda
Namun rinduku makin membara
Aku harus bagaimana, Tuhan?
Dan seperti yang sudah-sudah Dia menjawab
Seperti biasa saja...
Dan biasakan saja...
Sehingga kau akan terbiasa
Dan menjadi bisa

Ah, jawaban macam apa itu?
Tuhan nampaknya juga bosan ditanya-tanya
Harus bagaimana aku melakoni hidup
Judulnya melakoni ya tinggal dijalani saja

Namun menjalaninya sambil mencarimu itu melelahkan
Sudah saja kau kurelakan
Kukembalikan ke sang Empunya hidup
Dengan kelelahan semalam kubisikkan kepadaNya
Ini kukembalikan...
Semoga Kau selalu melindungi dan memeliharanya
Oh iya... katakan juga
Aku mencintainya

Jakarta, selesai hujan di tengah September yang kerontang.

19.22 /  21 September 2014 

Monday, June 27, 2016

Terbang Tinggi




Batinku terasa lapang
jangkauannya luas tak terbatas
Namun entah mengapa
Aku tak bisa menyelami dan menggapaimu
Di tempatmu berada

Setiap kali kucoba
Nafasku memendek
dan pandanganku menyempit

Sekali lagi kucoba
tempatmu terasa jauh
sesak dan sempit

Hampir aku putus asa
lalu kudengar sebuah Suara

Jangan kau turun dan coba selami
Teruslah terbang tinggi
Sapulah langit dan bumi 
Kelak dia akan ikut terangkat
Masuk ke dalam getaranmu kembali

27 Juni 2016

Thursday, June 25, 2015

Ramadhan Kali Ini

Jelang pagi
Dinginnya menusuk tulang
Aku sedang tak bisa menyusun kata
Jemariku kaku padahal tak membeku
Lidahku kelu padahal enggan membisu
Karena rasa terus memaksa

Hadirkan hening...
Hadirkan hening
Hadirkan hening

Hingga kau membening...

Istirahatkan logika
Diamlah dalam rasa
Ikuti saja iramanya
yang seirama dengan tarikan dan hembusan nafasmu
dan detak jantungmu

Jelang pagi
Sebentar lagi matahari tinggi
Ramadhanku kali ini
Menuntutku untuk sunyi

Wednesday, June 10, 2015

Selalu Kamu

Selalu kamu
yang muncul di waktu-waktu sunyiku
Di heningnya peralihan malam ke pagi
Di gelapnya langit berserakan bintang
Di dinginnya malam menyapa jiwa

Selalu kamu
Yang pada akhirnya diam mengawasi
Mencuri-curi pandang di sela ketergesaan hidup
Bergeming menatapku
Meski berulang kali kau harus
sembunyi

Selalu kepadamu
Kubisikkan sebuah kisah
Tentang seorang pengembara yang rindu pulang
Namun langkahnya belum berkata senada
Dan tentang sebuah hati yang penuh cinta
yang dengan tulus menantinya

Selalu untukmu
Doa-doa sunyi kupanjatkan
Semoga Dia senantiasa memeliharamu
Menguatkanmu di saat kau merasa paling sendiri
Dan semoga ketika tiba saatnya nanti
Dia ringankan langkahmu pulang menuju hatiku






Friday, June 5, 2015

Puisi Subuh

Lepas
tak berpanjat
Mengembara tak bertujuan
ikuti rasa
manut pada nurani

Meski mentari dan bulan setia menemani
dan tanah tanpa lelah menopang jasmani
Tanyaku belum juga terhenti

Wahai Kau, di mana kaumku?
Mengapa sebatang kara menjadi takdirku?

Kemudian nurani tak bertuan
Yang racaunya biasa tak kuhiraukan
Hari ini terdengar menggelegar

Wahai kamu, 
Jiwa yang merdeka berjalan hanya denganKu





-Kolong langit subuh, 5 Juni 2015



Wednesday, March 18, 2015

Malamku



Starry Starry night by DaraDPhotography  


Malam, pelindungku,
Hening dan temaramnya 
tak membakar semangatku
tak memburu nafasku
Dia setia memelukku 
seperti rahim seorang ibu

Di situ semua lelah terbasuh
Kekusutan benak terurai
Satu demi satu
lembut dan menenangkan

Malam, bagiku tak lagi suram
Gulitanya menyejukkan
Membasuh jiwa raga yang lunglai terpapar keramaian
yang terdera ketergesaan setiap fajar menjelang

Malamku sangatlah pengasih
Membiarkanku menjadi diriku seada-adanya
Melucutiku dari topeng dan peran
serta kabut emosi yang sepanjang hari melekat kencang pada diri ini

Aku tak pernah menyangka ada kelembutan semegah ini
Tak pernah kusangka gulita dan heningnya bisa begitu menyembuhkan

Rasanya baru kemarin aku berbangga hati memuja mentari.

Kini di setiap senja kubisikkan
"Bawalah aku pulang
Aku milikmu, wahai kelam"