Indonesian Folktales

Thursday, March 31, 2011

A Cosmic Darling


She's a cosmic darling
She's a princess of light
Though She knew She could live like one
She chose not a tale that bright
 
She's a cosmic darling
She's made of d purest love
Though she understood that nature
She chose not a trait of innocence
 
She's a cosmic darling
She's a dear to Loved Ones with many names
Though She never doubt nor second questioned it
She chose to be wounded
 
She's a cosmic darling
She embodies heavenly gifts
Though She was thankful for it
She chose to deny it
 
She's a cosmic darling
She has this pair of majestic wings
Though She knew there's no sky too high to fly
She chose not to soar to crawl
 
She's a cosmic darling
She loved the choices She made
And Loved Ones agreed to play the villains
And Universe lovingly co-created the set
gently provided the time and space
And Guardians compassionately assisted Her
Removing almost all memories of Her true self
So She could play Her new role to her best
Expand and stretch to the max
And the Source witnessed all
From the beginning to the end
From the time She was conceived
And the time She made those choices
To the time She lives her role
And the time She returns home
 
She's a cosmic darling
She's a princess of light
Though Her choices are not for the soft heart
Though Her story is far from a tale of rosy
Though the oblivion seems endless
We all know someday she will remember
who She really is
When the time has come
When Loved Ones put off their masks
When Guardians show themselves
When She returns to a place called home
When the Source and She becomes one

Sunday, February 27, 2011

In Memoriam Of Him

Me and my father during Idul Fitri. I was about 3yrs old

I wish I could feel your kiss one more. I wish I could still kiss your hand so you know you own my highest respect. I wish I never took you so seriously. I wish I just let down my pride and let my self laugh to all your jokes. I wish I let you hug me. I wish I hugged you more often. I wish I could say that I’m always proud of you. I wish I could say yes to all of your requests. I wish you knew how I always enjoy traveling just with you. I wish you knew you were like a hero to me. I wish you knew you never an old man to my eyes. I wish you knew I never meant to hurt you. I wish you knew how much I always try to make you proud of me and happy. I wish you knew all this, dear father. And I wish you were here

Monday, February 7, 2011

Ketika Saya Hanya Melihat Ke Luar

Tuhan dan alam semesta selalu punya cara untuk buktikan pada kita bahwa kita dicintai. Setidaknya itu yang selalu saya rasakan. Mungkin banyak orang kaget jika tahu kalimat ini meluncur dari dalam hati saya. Saya tak salahkan kekagetan itu. Saya mengerti tak sedikit orang yang memiliki first impression atau bahkan second, third dan seterusnya tak begitu manis tentang saya. Jika bisa dipersentasekan secara subjektif kira-kira akan seperti ini:
50% berimpresi saya sebagai perempuan judes ,galak, pemarah yang lebih sering terlihat heavyhearted atau bahkan ‘dark’
30% berimpresi saya adalah perempuan sombong, penyendiri dan punya aura mengintimidasi
10% berimpresi saya adalah perempuan manja, kekanak-kanakkan, tak punya tata krama
10%  berimpresi saya adalah perempuan unik yang punya pikiran jauh lebih dewasa dari umur saya, menenangkan, perasa, penyayang, pemberani, pemimpi.
Dan sudah pasti, ketiga urutan teratas sangat ingin saya berubah menjadi seseorang yang lebih baik. Sayapun mengerti itu. Mungkin kalau saya dihadapkan dengan seseorang seperti diri saya, saya juga masuk di salah satu ketiga urutan itu. Sebegitu banyaknya orang yang mengharuskan saya merubah diri agar bisa jadi orang yang seseuai selera mereka, sebegitu besarnya jumlah orang yang menganggap saya terlalu banyak memiliki sifat negatif hingga saya percaya saya bukan orang yang menyenangkan. Saya percaya bahwa saya penuh dengan kegetiran, amarah, kekecewaan, iri hati, dan kompleks. Saya percaya bahwa saya adalah sosok dengan pribadi yang sulit. Kepercayaan ini mungkin sudah tertanam sejak kecil namun baru 3 tahun terakhir ini sepertinya hidup ingin saya menyadari bahwa false belief ini sudah sangat kronis. Kenapa saya bilang false? Ya karena ternyata semua keliru. Ternyata meski secara kuantitas impresi yang buruk-buruk tadi cukup besar, secara kualitas tak berarti apa-apa.
Hari ini, seperti hari-hari lainnya saat saya merasa hidup saya terjun bebas atau terpuruk, lagi-lagi Tuhan dan semesta dengan cara uniknya mengingatkan saya bahwa diri saya tak seburuk itu. Caranya memang ada-ada saja. Dimulai dari pagi hening yang saya nikmati bersama kucing kesayangan ditemani secangkir teh manis panas di ruang tamu. Pagi ini hujan deras, saya memutar lagu ceria untuk membangkitkan semangat. Mendadak saya mendengar suara pintu mobil di depan rumah ditutup. Saya tahu itu mobil tetangga namun entah kenapa pagi ini dalam hati saya spontan berkata “ah..papa sudah pulang.” Untuk sepersekian detik saya merasa kemurungan saya hilang, saya menoleh ke pagar dan sadar…papa saya kan sudah meninggal.  Tanpa saya sangka, saat itu juga air mata saya bergulir sederas hujan di luar. Ini bukan tangisan sedih. Ini tangisan haru karena untuk beberapa detik saya merasa beliau benar-benar ada dan sangat dekat…dan saya hampir yakin, beliau ada untuk saya. Saya  berterima kasih pada Tuhan. Di keheningan saya berbisik, “Papa, terima kasih sudah datang. Ria janji akan kuat. Ria akan baik-baik aja.”
Puas menangis karena haru dan rindu. Saya memutuskan untuk yoga. Meski separuh hati karena sedang tidak enak badan, saya paksakan juga. Anehnya pagi ini kedua kucing saya yang saling bermusuhan sama-sama masuk ke kamar dan duduk tenang di sisi kanan dan di depan saya. Mereka berpose ala Sphinx, sangat tenang dan rileks mengawasi saya. Dan ternyata ditengah-tengah yoga saya berpikir yang tidak-tidak hingga lupa bernapas teratur dan menjadi pusing. Melihat kedua kucing ini pikiran saya kembali ke momen ini. Saya merasa dijaga.
Lalu di sore hari, seorang sobat lama online di yahoo messenger. Kami jarang sekali bisa bertemu secara online karena kesibukan kami masing-masing. Sore ini  kami ngobrol tapi kali ini saya lebih banyak mendengarkan. Kali ini bukan karena ingin beratensi, namun lebih karena tak ingin cerita tentang keadaan hidup yang menurut saya tak patut dibanggakan. Sobat saya ini meski tahu keadaan saya, dia seperti tak memerdulikannya.
Kata-kata pertama yang dia ketik adalah “I’m reading your blog! Luv it! I always love ur writing. It just gets better with time like wine they say.”
“I thought your writing are very soothing to read.  U have this serene atmosphere in ur writing. It doesn’t sound desperate or pathetic at all. It’s just very mature and wise. I cannot sense anger at all …no.. if I can say it, I think you’ve healed, forgiven and loving ur self each moment. Very peaceful.  Like…unicorn. “
Dan saya balas dengan ikon senyuman. Dia bukan orang yang suka basa basi. Dia orang yang kejujurannya juga bisa terdengar brutal. Yang buruk akan dibilang buruk dan yang baik akan dibilangnya baik. Jadi ketika dia katakan ini semua…ya…seperti ada perban sejuk diletakkan di seluruh tubuh yang penuh memar ini.
Dia adalah salah satu orang di kelompok persentase terbawah. Dalam keadaan saya seburuk apapun, dia adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa melihat diri saya seperti Tuhan dan semesta melihat saya. Penuh cinta yang tak terkondisikan, penuh maaf. Ketika saya terlalu sering melihat ke luar dan terlalu banyak mendengarkan kata orang hingga lupa siapa saya sebenarnya seperti saat ini, saya dibantuNya untuk ingat. Melalui sahabat saya dan hal lain yang terjadi hari ini, saya ingat lagi…betapapun terasa beratnya beban hidup, saya adalah jiwa yang cahayanya tak akan pernah padam. Jiwa yang dicintai dan dijaga hidupnya. Jiwa yang sempurna dan berharga. Dan semoga pengalaman ini nantinya dapat membuat saya melihat diri saya dan juga orang lain seperti Tuhan melihat saya. Penuh cinta yang tak terkondisikan.

Saturday, February 5, 2011

Saya Tak Mau Lupa

Saya tak lagi menonton televisi dan membaca koran.
Saya tak lagi membuka-buka situs berita di dunia maya.
Lalu seorang teman bertanya
"Kamu tak takut ketinggalan berita? Nanti kalau ditanya orang kamu tak tau apa-apa."

Saya menggeleng pelan.

Saya jawab dia.

"Saya lebih baik ketinggalan berita daripada jadi lupa
kalau Tuhan itu ada. Daripada jadi lupa bahwa kesempatan hidup dan dunia ini
adalah anugrah terindah bagi setiap jiwa. Daripada saya jadi lupa
untuk melihat setiap orang yang saya temui sebagai saudara. Saya lebih baik
tak tahu apa-apa daripada jadi tak lagi tahu tujuan hidup saya dan siapa saya sebenarnya."

Timeless Space


I can feel you so close

I can sense you around
In this timeless space
In a place with no name
Letting me
breathe you
letting you
possess me 

I can feel your embrace
Savoring every inch of my being
Merging into yours
So sweet and delicate
Letting me
Conquer you
Letting you
Rule me

I can feel you so close
I can sense you around
In this timeless space
In a place with no name
071110


Jeremiah 29:13

One of My Mottos :)