Seorang teman berkeluh di sela isak tangisnya
aku tak pernah mengerti kenapa ada orang yang bisa putuskan hubungan begitu saja...
sakit sekali rasanya dihindari oleh orang yang sangat kau sayangi..
Biasanya aku diam...seperti yang sudah-sudah saat dia menangis terisak seperti gadis kecil. Biasanya aku diam...seperti yang sudah-sudah saat dia lontarkan tanya yang tak butuh jawaban, saat kekecewaan terdalamnya terkuak liar dan tak mampu dia redam. Biasanya aku diam...seperti yang sudah-sudah ketika dia butuh telinga dan hati manusia untuk telanjangi resahnya.
Tapi kali ini tanya itu kujawab pelan dan sangat hati-hati. Batinku ingin gadis kecil itu tahu siapa dirinya. Sudah saatnya luka itu dihadapi agar bisa terobati. Sudah saatnya air mata itu dipersembahkan untuk hal yang lebih mulia.
Ini jawabku:
Aku pernah tinggalkan orang-orang yang kusayang tanpa ucapan selamat tinggal. Yang aku tahu, aku lakukan hal itu karena tak tahan dengan penderitaan yang kurasakan. Tak tahan dengan sakitnya tak bisa mencinta dengan penuh, selalu terantai oleh luka masa lalu yang menunggu maafku. Maka kuputuskan untuk pergi dan 'bebaskan' orang-orang tersayang itu dan semoga suatu hari nanti, aku layak jadi orang tersayang mereka...tanpa luka, tanpa beban lagi.
Jadi sayang, biarlah ini jadi tangis terakhirmu. Karena kuharap kamu mengerti, bukan cuma kamu yang menderita di sini. Kuharap terpikir di benakmu, bisa jadi dia dua kali lebih menderita...karena tak hanya harus paksa dirinya tuk tinggalkanmu, tapi juga harus hadapi luka-luka masa lalunya yang mengantri untuk dimaafkan.
you can't love when you don't love yourself
Sunday, August 28, 2011
Friday, June 3, 2011
My Favorite Bible Quote
And for this reason I say to you, do not be anxious for your life, as to what you shall eat, or what you shall drink; nor for your body, as to what you shall put on. Is not life more than food, and the body more than clothing? Look at the birds of the air, that they do not sow, neither do they reap, nor gather into barns, and yet your heavenly father feeds them. Are you not worth much more than they? And which of you by being anxious can add a single cubit to his life span? And why are you anxious about clothing? Observe how the lilies of the field grow; they do not toil nor do they spin, yet I say to you that even Solomon in all of his glory did not clothe himself like one of these. But if God so arrays the grass of the field, which is alive today and tomorrow is thrown into the furnace, will He not much more do so for you, O men of little faith? Do not be anxious then, saying, "What shall we eat?" or "What shall we drink?" or "With what shall we clothe ourselves?" For all of these things the gentile eagerly seek; for your heavenly father knows that you need of all of these things. But seek first His Kingdom and His righteousness; and all of these things shall be added unto you.
Jesus of Nazareth
Jesus of Nazareth
Tuesday, May 24, 2011
Mengenali Esensinya
You know you are friends when your heart can see each other’s true colors passing through every layer of the ego-made masks.
Satu pelajaran yang saya petik di malam minggu lalu adalah esensi manusia tak pernah berubah. Sifat boleh bertransformasi, perilaku boleh berubah, penampilan selalu bisa berganti namun esensinya tak pernah luntur oleh waktu. Saya tak tahu istilah yang lebih baik lagi untuk menggambarkan karakter yang paling mendasar ini selain dengan kata esensi. Seperti sidik jari manusia, sejak lahir sampai dia menutup mata, esensinya akan tetap sama. Terus terang ini hal baru buat saya karena saya selalu berpikir manusia berubah. Hidup selalu bisa membuat seseorang menjadi lebih manis atau sebaliknya. Waktupun begitu. Namun ternyata tidak juga.
Ote adalah salah satu sahabat saya. Dia teman lama saya. Dulu saat masih kuliah, kami dekat dan sudah seperti saudara. Saya tahu betul dia dan begitu juga sebaliknya. Kita sama-sama tahu pahit manisnya kehidupan yang kita masing-masing lalui. Persahabatanpun bukan cuma manisnya saja, banyak pahit dan pedih kami rasakan. Pertengkaran juga dari yang mogok bicara 3 harian sampai yang paling dramatis seperti sinetronpun pernah kami lalui. Tapi kami tetap saja tak kapok berteman. Ote orang yang unik. Dengan tampilan luar yang sangat mengintimidasi dan nyentrik, tak banyak orang tahu kalau dia sebenernya manusia dengan tingkat kepedean yang hampir rata dengan tanah. Dia sangat sering merasa tak berguna, tak dimengerti dan tak-tak yang lainnya.
Selepas lulus kuliah, saya langsung bekerja, sementara dia meneruskan kuliah di bidang yang dia sukai. Seiring waktu dan karena kesibukan kami masing-masing, saya dan dia makin jarang bertemu dan berkomunikasi. Makin jarang lagi karena setelah dia bekerja, saya mulai merasa kepribadiannya berubah. Menurut saya, Ote jadi “bossy”, kasar, dingin dan tak berempati seperti dulu. Saya seperti berhadapan dengan tembok. Entah kemana Ote yang dulu. Apa begitu dahsyatnya kekuatan kekuasaan seperti uang dan posisi serta pergaulan hingga bisa membekukan kemanusiaan seorang manusia, begitu batin saya. Saya jadi malas bicara sama dia bahkan hanya dengan maksud menyapa menanyakan kabar lewat messenger atau sms. Malas karena beberapa kali saya sapa ,dia menjawab singkat-singkat seperti orang yang malas bicara. Dan kalau saya tanyakan kenapa dia begitu, dia jadi galak dan menjawab sibuk. Dia pikir saya juga ga sibuk apa? , batin saya…
Kalau sudah begitu saya malas bicara lebih lanjut karena nantinya hanya bikin sakit hati. Berubah sudah sahabat yang satu ini, saya pasrah. Meski pedih, life must go on, anggap saja seleksi alam, nanti juga dapat lagi gantinya yang sesuai, batin saya lagi...
Sabtu pagi itu, di luar kebiasaannya, dia menyapa melalui Blackberry Messenger (BBM). Dia tanya apa saya punya rencana keluar hari itu. Saya jawab singkat, “ga ada. Mau santai aja di rumah. Kenapa?”
Seperti biasa, BBM saya dijawab dengan keheningan. Menyebalkan. Saya tanya lagi “Mau ke rumah?”
Baru dia jawab iya. Sekitar jam 10 habis sarapan katanya. Saya balas “kasih tau ya kalo udah otw.”
Dia jawab “yea sure”. Sombongnya.
Jam 11 dia sampai. Lusuh luar biasa. Tas kerja di tangan kanan, tas laptop di tangan kiri, jaket tergantung di pundak, kaos hitam, celana jeans ketat, kacamata hitam dan topi. Hari itu memang sangat terik jadi ya sangat wajar kalau kostum dia menyempurnakan penderitaan yang disebabkan udara Jakarta akhir-akhir ini.
Saya persilakan dia masuk langsung ke kamar. Dia kepanasan, saya nyalakan ac kamar. Dia masih bisu sambil kipas2 panik, saya tawarkan apa dia mau ganti baju. Saya agak kaget dengan perilaku saya sendiri. Terlepas dari kekesalan yang dia sebabkan karena perubahan sikapnya, saya tetap nyaman atas kehadirannya. Rasanya seperti kedatangan keluarga sendiri. Jujur saya senang bertemu dia lagi.
Pertemuan yang tadinya saya kira akan dingin dan tak nyaman ternyata tidak sama sekali. 10 jam dia ada di rumah saya dan selama itu banyak gelak tawa datang dari arah kamar saya. Rasanya sudah lama sekali tidak terbahak selepas ini. Rasanya sudah lama sekali tidak konyol-konyolan seperti orang yang lupa umur. Ote memang berubah. Dia sudah semakin percaya diri, semakin tahu apa yang dia mau. Dia juga tampak makin tenang meski saya yakin dia juga babak belur mengendalikan emosinya itu. Banyak yang berubah di dirinya dan sudah pasti di diri saya juga. Tapi tiap kali kami menatap mata satu dan lainnya kami kenal esensi dibalik “atribut” kami. Lebam dan memar yang kami dapat sepanjang menjalani hidup ini tak mampu tutupi esensi itu. Dan saya rasa, beginilah harusnya seseorang ‘melihat’ orang lain. Melihat melampaui lapisan label-label buatan masyarakat, topeng-topeng emosi, dan kabut pemikiran idealisme.
Wednesday, April 6, 2011
Thursday, March 31, 2011
A Cosmic Darling
She's a cosmic darlingShe's a princess of light
Though She knew She could live like one
She chose not a tale that bright
She's a cosmic darling
She's made of d purest love
Though she understood that nature
She chose not a trait of innocence
She's a cosmic darling
She's a dear to Loved Ones with many names
Though She never doubt nor second questioned it
She chose to be wounded
She's a cosmic darling
She embodies heavenly gifts
Though She was thankful for it
She chose to deny it
She's a cosmic darling
She has this pair of majestic wings
Though She knew there's no sky too high to fly
She chose not to soar to crawl
She's a cosmic darling
She loved the choices She made
And Loved Ones agreed to play the villains
And Universe lovingly co-created the set
gently provided the time and space
And Guardians compassionately assisted Her
Removing almost all memories of Her true self
So She could play Her new role to her best
Expand and stretch to the max
And the Source witnessed all
From the beginning to the end
From the time She was conceived
And the time She made those choices
To the time She lives her role
And the time She returns home
She's a cosmic darling
She's a princess of light
Though Her choices are not for the soft heart
Though Her story is far from a tale of rosy
Though the oblivion seems endless
We all know someday she will remember
who She really is
When the time has come
When Loved Ones put off their masks
When Guardians show themselves
When She returns to a place called home
When the Source and She becomes one
Sunday, February 27, 2011
In Memoriam Of Him
![]() |
| Me and my father during Idul Fitri. I was about 3yrs old |
I wish I could feel your kiss one more. I wish I could still kiss your hand so you know you own my highest respect. I wish I never took you so seriously. I wish I just let down my pride and let my self laugh to all your jokes. I wish I let you hug me. I wish I hugged you more often. I wish I could say that I’m always proud of you. I wish I could say yes to all of your requests. I wish you knew how I always enjoy traveling just with you. I wish you knew you were like a hero to me. I wish you knew you never an old man to my eyes. I wish you knew I never meant to hurt you. I wish you knew how much I always try to make you proud of me and happy. I wish you knew all this, dear father. And I wish you were here
Monday, February 7, 2011
Ketika Saya Hanya Melihat Ke Luar
Tuhan dan alam semesta selalu punya cara untuk buktikan pada kita bahwa kita dicintai. Setidaknya itu yang selalu saya rasakan. Mungkin banyak orang kaget jika tahu kalimat ini meluncur dari dalam hati saya. Saya tak salahkan kekagetan itu. Saya mengerti tak sedikit orang yang memiliki first impression atau bahkan second, third dan seterusnya tak begitu manis tentang saya. Jika bisa dipersentasekan secara subjektif kira-kira akan seperti ini:
50% berimpresi saya sebagai perempuan judes ,galak, pemarah yang lebih sering terlihat heavyhearted atau bahkan ‘dark’
30% berimpresi saya adalah perempuan sombong, penyendiri dan punya aura mengintimidasi
10% berimpresi saya adalah perempuan manja, kekanak-kanakkan, tak punya tata krama
10% berimpresi saya adalah perempuan unik yang punya pikiran jauh lebih dewasa dari umur saya, menenangkan, perasa, penyayang, pemberani, pemimpi.
Dan sudah pasti, ketiga urutan teratas sangat ingin saya berubah menjadi seseorang yang lebih baik. Sayapun mengerti itu. Mungkin kalau saya dihadapkan dengan seseorang seperti diri saya, saya juga masuk di salah satu ketiga urutan itu. Sebegitu banyaknya orang yang mengharuskan saya merubah diri agar bisa jadi orang yang seseuai selera mereka, sebegitu besarnya jumlah orang yang menganggap saya terlalu banyak memiliki sifat negatif hingga saya percaya saya bukan orang yang menyenangkan. Saya percaya bahwa saya penuh dengan kegetiran, amarah, kekecewaan, iri hati, dan kompleks. Saya percaya bahwa saya adalah sosok dengan pribadi yang sulit. Kepercayaan ini mungkin sudah tertanam sejak kecil namun baru 3 tahun terakhir ini sepertinya hidup ingin saya menyadari bahwa false belief ini sudah sangat kronis. Kenapa saya bilang false? Ya karena ternyata semua keliru. Ternyata meski secara kuantitas impresi yang buruk-buruk tadi cukup besar, secara kualitas tak berarti apa-apa.
Hari ini, seperti hari-hari lainnya saat saya merasa hidup saya terjun bebas atau terpuruk, lagi-lagi Tuhan dan semesta dengan cara uniknya mengingatkan saya bahwa diri saya tak seburuk itu. Caranya memang ada-ada saja. Dimulai dari pagi hening yang saya nikmati bersama kucing kesayangan ditemani secangkir teh manis panas di ruang tamu. Pagi ini hujan deras, saya memutar lagu ceria untuk membangkitkan semangat. Mendadak saya mendengar suara pintu mobil di depan rumah ditutup. Saya tahu itu mobil tetangga namun entah kenapa pagi ini dalam hati saya spontan berkata “ah..papa sudah pulang.” Untuk sepersekian detik saya merasa kemurungan saya hilang, saya menoleh ke pagar dan sadar…papa saya kan sudah meninggal. Tanpa saya sangka, saat itu juga air mata saya bergulir sederas hujan di luar. Ini bukan tangisan sedih. Ini tangisan haru karena untuk beberapa detik saya merasa beliau benar-benar ada dan sangat dekat…dan saya hampir yakin, beliau ada untuk saya. Saya berterima kasih pada Tuhan. Di keheningan saya berbisik, “Papa, terima kasih sudah datang. Ria janji akan kuat. Ria akan baik-baik aja.”
Puas menangis karena haru dan rindu. Saya memutuskan untuk yoga. Meski separuh hati karena sedang tidak enak badan, saya paksakan juga. Anehnya pagi ini kedua kucing saya yang saling bermusuhan sama-sama masuk ke kamar dan duduk tenang di sisi kanan dan di depan saya. Mereka berpose ala Sphinx, sangat tenang dan rileks mengawasi saya. Dan ternyata ditengah-tengah yoga saya berpikir yang tidak-tidak hingga lupa bernapas teratur dan menjadi pusing. Melihat kedua kucing ini pikiran saya kembali ke momen ini. Saya merasa dijaga.
Lalu di sore hari, seorang sobat lama online di yahoo messenger. Kami jarang sekali bisa bertemu secara online karena kesibukan kami masing-masing. Sore ini kami ngobrol tapi kali ini saya lebih banyak mendengarkan. Kali ini bukan karena ingin beratensi, namun lebih karena tak ingin cerita tentang keadaan hidup yang menurut saya tak patut dibanggakan. Sobat saya ini meski tahu keadaan saya, dia seperti tak memerdulikannya.
Kata-kata pertama yang dia ketik adalah “I’m reading your blog! Luv it! I always love ur writing. It just gets better with time like wine they say.”
“I thought your writing are very soothing to read. U have this serene atmosphere in ur writing. It doesn’t sound desperate or pathetic at all. It’s just very mature and wise. I cannot sense anger at all …no.. if I can say it, I think you’ve healed, forgiven and loving ur self each moment. Very peaceful. Like…unicorn. “
Dan saya balas dengan ikon senyuman. Dia bukan orang yang suka basa basi. Dia orang yang kejujurannya juga bisa terdengar brutal. Yang buruk akan dibilang buruk dan yang baik akan dibilangnya baik. Jadi ketika dia katakan ini semua…ya…seperti ada perban sejuk diletakkan di seluruh tubuh yang penuh memar ini.
Dia adalah salah satu orang di kelompok persentase terbawah. Dalam keadaan saya seburuk apapun, dia adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa melihat diri saya seperti Tuhan dan semesta melihat saya. Penuh cinta yang tak terkondisikan, penuh maaf. Ketika saya terlalu sering melihat ke luar dan terlalu banyak mendengarkan kata orang hingga lupa siapa saya sebenarnya seperti saat ini, saya dibantuNya untuk ingat. Melalui sahabat saya dan hal lain yang terjadi hari ini, saya ingat lagi…betapapun terasa beratnya beban hidup, saya adalah jiwa yang cahayanya tak akan pernah padam. Jiwa yang dicintai dan dijaga hidupnya. Jiwa yang sempurna dan berharga. Dan semoga pengalaman ini nantinya dapat membuat saya melihat diri saya dan juga orang lain seperti Tuhan melihat saya. Penuh cinta yang tak terkondisikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

