Indonesian Folktales

Tuesday, August 23, 2016

Gerimis Mengiris






Mencari sosokmu
Yang tak lagi bisa kurasa
Seperti hilang tersapu gerimis
Yang meski kecil namun mengiris

Melerai satu persatu
Kenangan yang keras kepala
Yang hidupnya minta diperhatikan
Atau hidup dari sebuah perhatian

Entahlah, sayang
Aku tak mau lagi mereka-reka
Merasa-rasa
Sedang apa seorang yang kucinta
Di malam gerimis yang mengiris ini

Dan bukannya aku tak lagi sayang
Namun ada banyak yang kusayang
Para kesayangan yang senantiasa dihadirkan
Konon lebih “layak” disayang
Daripada sosokmu yang tak kunjung datang

Dan kini gerimis mereda
Namun rinduku makin membara
Aku harus bagaimana, Tuhan?
Dan seperti yang sudah-sudah Dia menjawab
Seperti biasa saja...
Dan biasakan saja...
Sehingga kau akan terbiasa
Dan menjadi bisa

Ah, jawaban macam apa itu?
Tuhan nampaknya juga bosan ditanya-tanya
Harus bagaimana aku melakoni hidup
Judulnya melakoni ya tinggal dijalani saja

Namun menjalaninya sambil mencarimu itu melelahkan
Sudah saja kau kurelakan
Kukembalikan ke sang Empunya hidup
Dengan kelelahan semalam kubisikkan kepadaNya
Ini kukembalikan...
Semoga Kau selalu melindungi dan memeliharanya
Oh iya... katakan juga
Aku mencintainya

Jakarta, selesai hujan di tengah September yang kerontang.

19.22 /  21 September 2014 

Tuesday, August 9, 2016

Warrior Princess




Sore itu, atas permintaan saya dan karena janji yang pernah terucap setahun lalu olehnya, ia  memutuskan datang berkunjung. Warrior Princess adalah julukan kami terhadap satu sama lain mengingat kami berdua sama-sama tahu medan pertempuran macam apa yang terentang untuk dilalui selama 28 tahun hidup di dunia ini.  Tapi saya merasa ia lebih cocok menyandang gelar mulia itu karena kepakan sayapnya terlalu megah untuk bisa dihentikan oleh siapapun atau apapun. Ia benar-benar ksatria sejati.
Kamar telah saya rapihkan, air putih beserta panganan kesukaannya sudah saya persiapkan. Bagi saya, seorang ksatria selalu pantas disambut sebagai tamu agung dibandingkan seorang raja.  Saya harap dia nyaman di kamar ini karena saya menyukai kamar ini. Meski kecil, cat hijau mentol dan jendela besar menghadap timur di sisi tempat tidur mengingatkan saya akan sebuah tempat peristirahatan di tepi pantai.Ya, kami berdua sama sama menyukai pantai. Kamar tidur ini hanyalah sebagian mungil dari petak huruf L raksasa yang membentuk rumah keluarga saya.  Kamar ini sudah seperti sepetak surga yang kedamaiannya hanya terasa sebatas ambang pintunya.
Setelah lama menunggu, akhirnya suara mesin mobil terdengar dari dalam kamar. Saya sambut  ksatria   di depan pagar. Senyum merekah dari wajah lelahnya. Meski setahun terentang di antara kami berdua, pertemuan fisik selalu saja bisa menghapus  kejamnya ilusi waktu. Tidak ada rasa canggung yang biasa menyerang orang pada umumnya ketika mereka kembali berjumpa setelah lama berpisah.  Rasanya seperti baru kemarin dia mengecup kedua pipi saya dan mengucapkan salam perpisahan.  Kini dia di sini, duduk di hadapan saya, tersenyum hangat seperti setahun yang lalu.
“Kamu baik-baik saja kan?” senyum hangat itu menyimpan kecemasan dan keletihan. Saya mengangguk seraya mengajaknya minum dan mulai makan.  Aneh, saya pikir hari ini saya akan banyak berkeluh kesah kepadanya tetapi kata-kata seperti terhenti di ujung lidah. Baiklah, intuisi ini mungkin benar adanya, ia datang untuk beristirahat. Lagipula, bukankah suasana kamar ini memang sudah sedemikian rupa cocok untuk merevitalisasi jiwa-jiwa yang lelah.
“Kamu nampak lelah.” Ia menyambut pernyataan saya dengan senyum lemah. Sepertinya masih enggan bercerita. Sayapun tidak akan memaksa. Saya percaya, hanya jiwa  ksatria pemberani  yang mampu tampil telanjang tanpa baju zirah pelindung ego mereka. Dan saya percaya ia adalah satunya
“Kamu selalu bisa menelanjangi saya.” Ujarnya tiba-tiba.
“Dan kamu selalu berani untuk melepaskan baju besi itu ketika bersama saya. Saya hargai itu. Kita  sama-sama tahu betapa sulitnya tampil telanjang dihadapan manusia seperti kita berdua.” Jawab saya.sambil tertawa.
Dia tersenyum rileks, menyalakan rokok dan mulai bercerita. Kisahnya rumit, romantis dan heroik seperti biasanya. Dan diakhiri dengan pertanyaan  “Apa yang bisa saya perbuat untuk melerai benang kusut yang telah saya ciptakan sendiri?”
Benang kusut. Saya tidak melihat ada benang kusut di sana.  Dia benar-benar lelah sepertinya sampai ia merasa melihat sebuah benang kusut.
“Saya tidak melihat ada benang kusut. “ jawab saya sambil tersenyum.
Dengan tatapan putus asa dia berkata lagi  “Maukah kamu bicara pada semesta dan tanyakan apa yang bisa saya perbuat untuk memperbaiki ini semua?”
Saya mengangguk singkat seraya meraih lembaran kertas kosong dari dalam laci.  Dia duduk cemas. Di hadapannya terentang 23 lembar kertas kosong.
“ Ambilah sebanyak yang kamu mau, berikan padaku dan aku akan meletakkan di depanmu sesuai urutan pengambilannya”
Lima lembar kertas kosong kini terletak di antara kami berdua. Kami menatapnya selama beberapa menit. Kertas-kertas itu tidak lagi polos. Entah ia sadar atau tidak, seluruh kecemasannya terproyeksi dengan sangat halus di atas kertas-kertas itu. Semestapun berbicara dan saya menerjemahkan untuknya.
“Apa yang semesta katakan?” ujarnya tak sabar
“Seperti yang saya bilang, tidak ada benang kusut. Kamu sendiri sebenarnya tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu selalu tahu. Hanya kali ini kamu takut dan ketakutan itu seperti awan gelap yang menyelimuti begitu pekat sehingga kamu merasa kamu tidak mengetahui jalan keluarnya.”
Ia tersenyum getir. Menyalakan rokok. Menghisapnya dalam-dalam. Ia tahu semesta tidak pernah berbohong. Ia pun tahu bahwa  ia tahu. Yang ia tidak tahu adalah apakah ia memiliki keberanian untuk menghadapi medan perang yang satu ini. Medan perang yang bukan lagi pertempuran antara ia dan dunia. Kali ini ia dihadapkan dengan orang-orang tercintanya. Semua menjelma menjadi alter egonya. Pertempuran kali ini hanya antara ia dan dirinya.
Saya mungkin tidak tahu seluruh kisahnya. Saya tidak perlu tahu. Saya hanya tahu bahwa seperti yang sudah-sudah, di pertempuran kali ini ia akan baik-baik saja. Ya, seperti yang sudah-sudah. Karena ia seorang ksatria sejati.

Ksatria sejati tidak membutuhkan baju zirah karena ketelanjangan menyatukannya pada sumber perlindungan tak terkalahkan yaitu sang Pencipta. Ia tidak memenangkan pertarungan dengan pedang maupun panah melainkan dengan kejujuran nuraninya. Kita berdua sama-sama tahu akan hal itu, bukan?

Desember 25 2009

Monday, June 27, 2016

Terbang Tinggi




Batinku terasa lapang
jangkauannya luas tak terbatas
Namun entah mengapa
Aku tak bisa menyelami dan menggapaimu
Di tempatmu berada

Setiap kali kucoba
Nafasku memendek
dan pandanganku menyempit

Sekali lagi kucoba
tempatmu terasa jauh
sesak dan sempit

Hampir aku putus asa
lalu kudengar sebuah Suara

Jangan kau turun dan coba selami
Teruslah terbang tinggi
Sapulah langit dan bumi 
Kelak dia akan ikut terangkat
Masuk ke dalam getaranmu kembali

27 Juni 2016

Wednesday, June 22, 2016

TOLONG! SAYA MAU MELEDAK!



Semua orang bisa marah dan bahkan pernah sampai meledak-ledak. Marah adalah reaksi alamiah yang jika tidak diekspresikan secara konstruktif, bisa menjadi hal yang merugikan baik buat diri sendiri mau pun lingkungan sekitar. 
Amarah yang tak terkendali bisa membuat kesehatan tubuh kacau balau. Begitu juga dengan amarah yang terpendam. Jadi apa yang bisa kita lakukan saat amarah mulai menguasai kita?

Relaksasi
Teknik relaksasi sederhana, seperti pengaturan nafas dan teknik visualisasi dapat meredakan amarah.


Cobalah langkah ini:
-Bernafaslah perlahan dari perut
-Ucapkan kata-kata menenangkan seperti “saya tenang dan damai” kepada diri sendiri sambil terus bernapas perlahan
-Bayangkan hal-hal yang membuat hati nyaman dan merasa sejuk

Menyibukkan diri
Kadang, amarah bisa datang begitu cepat dan tanpa kita sadari kita sudah siap meledak. Pada saat darurat seperti ini, cobalah mengalihkan pikiran dari objek yang memicu kemarahan ke hal lain. Kita bisa mengambil secarik kertas dan mulai mencorat-coret dengan menggunakan pensil atau apa pun yang tersedia pada saat itu. Atau kamu juga bisa keluar ruangan sebentar dan berjalan kaki, melihat-lihat sekitar sambil menghirup udara segar.

Menulis
Menumpahkan kata-kata makian saat sedang marah ke atas kertas bisa menjadi alternatif penyaluran yang sangat aman dan praktis. Tulislah semua uneg-uneg tanpa perlu dipikir. Biarkan tangan kita menjadi saluran untuk membersihkan hati dan pikiran kita dari luapan amarah. Setelah itu, kertas tadi bisa kita robek-robek lalu buang. Dijamin perasaan akan lebih enteng setelahnya.


Nah, sudah lebih lega sekarang? Jika sudah merasa lebih tenang, ada baiknya kita meluangkan waktu untuk merenungkan hal yang memicu amarah kita tadi. Luangkan waktu untuk introspeksi diri juga. Dan jika pikiran dirasa sudah cukup jernih dan hati sudah cukup tentram, bicarakanlah duduk permasalahannya secara baik-baik dengan pihak yang membuat kita marah. 

Amarah juga seringkali timbul akibat kita tidak sepenuhnya mengenal sifat kita sendiri.  Gunakan kesempatan ini untuk mengenal diri sendiri lebih dalam sehingga kita juga nantinya menjadi pribadi yang sabar dan mau mengerti serta memahami orang lain.